.RU

Kekejaman Holocaust - Fasisme dikenal sebagai ideologi yang lahir dan berkembang subur pada abad ke-20. Ia menyebar...


Kekejaman Holocaust



Kekejaman rasial Nazisme tidak hanya terbatas kepada orang-orang yang dianggap “tidak patut” berada di wilayah Jerman, tetapi ditujukan kepada seluruh dunia. Impian Hitler adalah berdirinya Kekaisaran Jerman yang akan memimpin dunia, dan mempercepat yang disebut “evolusi manusia” dengan cara mensterilkan semua ras “rendahan” di muka bumi ini. Hal ini, sesungguhnya adalah sebuah ramalan Darwin. Dalam buku The Descent of Man, Darwin menulis: “Dalam periode tertentu di masa mendatang, tidak terlalu lama dalam hitungan abad, ras-ras manusia beradab pasti akan hampir memusnahkan dan menggantikan ras-ras tak beradab di seluruh dunia. Pada waktu yang sama, kera anthropomorphous (yang mirip manusia)… tentu akan dimusnahkan.”96 Kewajiban untuk melaksanakan ramalan ini jatuh pada Hitler.

Rencana tersebut mulai dilaksanakan pada tahun 1939. Dengan sejumlah penyerangan mendadak, pertama-tama Hitler menduduki Polandia, kemudian Denmark, Norwegia, Belgia, Belanda, Prancis, Yugoslavia, Yunani, Afrika Utara dan Uni Soviet. Penduduk negara-negara yang diduduki menjadi korban kekejaman yang mengerikan, terutama mereka yang dikategorikan sebagai “ras rendah” seperti Yahudi, Slavia dan Gipsi. Jutaan orang dikirim ke kamp-kamp untuk dijadikan tenaga budak. Tak lama, kamp-kamp ini kemudian menjadi kamp-kamp pemusnahan, berdasarkan “Final Solution” (Solusi Akhir), yang disesuaikan dengan hasil Konferensi Wannsee yang terkenal, yang dilakukan oleh Hitler dan rekan-rekannya. Kamar-kamar gas yang dirancang khusus untuk membunuh manusia, pertama-tama menggunakan gas karbon monoksida kemudian gas Zyklon B. Dalam pemusnahan yang dilakukan di kamar-kamar gas dan metode-metode lainnya, telah dibunuh dengan brutal 5,5 juta orang Yahudi, 3 juta orang Polandia, hampir 1 juta orang Gipsi, dan ratusan ribu tahanan perang dari berbagai bangsa.

Salah satu contoh yang paling mengerikan dari kekejaman Nazi adalah berbagai eksperimen tak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh perwira Nazi

Josef Mengele

terhadap para tahanan dalam kamp konsentrasi di Auschwitz. Orang-orang dewasa dan anak-anak yang terpilih dari para tahanan digunakan Mengele sebagai “kelinci percobaan” dalam eksperimen-eksperimen menakutkan untuk menguji ketahanan tubuh manusia terhadap panas dan dingin yang ekstrem. Orang-orang dipaksa masuk ke dalam air yang penuh es pada cuaca musim dingin yang menggigit, untuk mengetahui berapa lama mereka mampu bertahan hidup sebelum membeku. Mengele juga diketahui melakukan operasi terhadap korban-korbannya tanpa pembiusan sedikit pun, dan mereka dibedah dalam keadaan sepenuhnya sadar. Eksperimen Mengele yang paling kejam menimpa orang-orang kembar yang masuk ke kamp. Mengele memisahkan semua orang kembar ini dari penghuni kamp lainnya dan mengukur pengaruh faktor-faktor fisik dengan melaksanakan berbagai eksperimen yang berbeda terhadap mereka. Metode yang digunakannya luar biasa biadab. Ia menyuntik orang-orang kembar dengan darah satu sama lain dan mengukur reaksi mereka, dan umumnya salah satu atau kedua kembar tersebut menderita sakit kepala yang sangat dan suhu badan tinggi. Juga karena ingin mengukur apakah warna mata dapat ditukar atau tidak secara fisik, Mangele menyuntikkan tinta biru ke dalam mata orang kembar.

Semua korban ini sangat menderita, dan banyak di antaranya menjadi buta. Anak-anak kecil diinjeksi dengan bermacam-macam penyakit untuk mengamati berapa lama mereka dapat bertahan hidup karenanya. Banyak anak-anak tak berdosa yang disiksa oleh monster Nazi Mangele, dan berujung dengan cacat atau kematian.

Pada akar dari kekejaman luar biasa ini terdapatlah teori Darwinis-fasis yang menganggap manusia sebagai spesies hewan dan sebagian ras manusia sebagai “hewan-hewan yang merugikan”. Suatu pengkajian atas kehidupan Mangele mengungkapkan bahwa dia dididik dalam teori semacam itu. Dalam kajian tentang kehidupan dan kekejaman Mangele, Darwinisme Sosial dari Dr. Ernst Rudin, mentor para dokter Nazi, dibahas sebagai berikut:

Jika mangele sendiri menjadi monster berdarah dingin pada puncak karir Nazinya, dia sudah mempelajari beberapa pemikiran Jerman yang paling kejam. Sebagai mahasiswa, Mangele mengikuti kuliah-kuliah Dr. Ernst Rudin, yang mengemukakan bahwa tidak saja terdapat banyak kehidupan yang tidak layak dijalani, tapi juga bahwa dokter-dokter bertanggung jawab menghancurkan dan menyingkirkan kehidupan semacam itu dari masyarakat banyak. Pandangannya yang mencolok mendapat perhatian Hitler sendiri, dan Rudin dipanggil untuk membantu penyusunan Undang-undang Perlindungan Kesehatan Hereditas, yang disahkan pada tahun 1933, tahun mana Nazi meraih kontrol sepenuhnya atas pemerintahan Jerman. Darwinis Sosial yang tanpa rasa sesal ini ikut berkontribusi bagi dekrit Nazi yang menyerukan sterilisasi terhadap orang-orang yang menunjukkan cacat-cacat seperti: kelemahan pikiran; schizophrenia; depresi berlebihan; epilepsi; kebutaan menurun; tuna wicara; cacat fisik… agar tidak berketurunan dan menodai lebih jauh kelompok gen Jerman…..

Berulang kali dan pada setiap tingkat kebrutalan Nazi, Darwinisme Sosial dapat teramati melongokkan kepalanya yang mengerikan. Inspirasi utama di balik salah satu dari arsitek kebrutalan Jerman yang paling terdepan, Heinrich Himmler, lagi-lagi, tak lain tak bukan adalah konsep-konsep Darwinis tentang “konflik” dan “persaingan untuk hidup”. Saat menjelaskan logika yang disebut “ilmiah” itu, yang digunakannya untuk membenarkan penindasan yang dilakukannya, ia berkata, “hukum alam harus melakukan tugasnya dalam keberlangsungan hidup yang terkuat.” 98

Himmler memandang orang-orang non-Aria, dan bangsa-bangsa seperti Slavia dan Yahudi pada khususnya, sebagai binatang, dan menganggap sangat alamiah untuk melakukan segala jenis kekejaman terhadap mereka. Inilah yang diucapkannya tentang para tahanan wanita Rusia dalam pidatonya pada tanggal 4 Oktober 1943 di hadapan para Pemimpin Grup SS di Poznan:

Apakah bangsa lain hidup dalam kemakmuran atau binasa karena kelaparan hanyalah penting bagiku sepanjang kita membutuhkan mereka sebagai budak bagi Kultur kita. Apakah 10.000 wanita Rusia jatuh kelelahan atau tidak ketika mereka menggali sebuah parit tank hanyalah penting bagiku sepanjang parit tank itu rampung dikerjakan untuk bangsa Jerman.99

Bahkan Himmler mencemooh rakyat di negara-negara pendudukan yang ingin berperang bersama Jerman:

Dalam waktu singkat, aku membentuk SS Jerman di berbagai negara. Kami segera, mendapat sukarelawan-sukarelawan bagi Jerman dari negara-negara ini. Sejak awal, aku telah mengatakan pada mereka, “Kalian dapat melakukan apa yang kalian suka atau meninggalkan apa yang kalian mau. Aku serahkan sepenuhnya kepada kalian, tetapi kalian boleh yakin, bahwa sebuah SS akan dibentuk di negara kalian, dan hanya ada satu SS di Eropa, dan itulah SS Jerman yang dipimpin oleh Reichsfuehrer-SS... Aku juga telah mengatakan pada anggota-anggota SS sejak awal: Kami tidak mengharapkan kalian untuk menjadi Jerman dari oportunisme. Tapi kami memang mengharapkan kalian untuk mengesampingkan cita-cita nasional kalian demi cita-cita ras dan historis yang lebih besar, demi Reich Jerman.100

Kerugian yang diderita akibat Perang Dunia II, yang dimulai oleh Hitler demi apa yang dinamakan “kedaulatan ras unggul”, sangatlah besar. Lebih dari 55 juta jiwa tewas, yang lebih dari setengahnya adalah rakyat sipil. Kerugian materi pun tak terhitung. Faktor utama yang mendorong kaum Nazi untuk menciptakan bencana ini adalah klaim mereka sebagai “ras berkuasa”. Dan, akar dari klaim itu adalah teori evolusi Darwin.

Benito Mussolini, sekutu terbesar Hitler, juga terpengaruh oleh Darwinisme. Menurut pandangan Mussolini, kekerasan diperlukan demi perubahan sosial. Ia menentang segala bentuk pasifisme dan berulang kali menggunakan istilah-istilah Darwinis dalam pidato-pidatonya. Ia menegaskan bahwa “keengganan Inggris untuk terlibat dalam perang menjadi bukti kemerosotan evolusioner pada Kerajaan Inggris.”101

Kesimpulan yang kita peroleh dari sebuah penelitian terhadap rasisme fasis sudah jelas adanya: Darwinisme adalah ‘pelaku’ tersembunyi di balik kedua rezim fasis dan Perang Dunia II. Mungkin hanya sedikit orang di masa kini yang menyadari hubungan antara realitas-realitas yang merupakan bencana besar ini dengan Darwinisme. Bagaimanapun, telah jelas benar bahwa kaum fasis memperoleh prinsip-prinsip dasar mereka dari Darwinisme. Pada akhirnya, ideologi ini, yang menghubungkan antara penciptaan kehidupan dengan kejadian kebetulan, menambahkan prinsip-prinsip semacam chaos, kekejaman, kebengisan, dan kekuatan adalah kebenaran. Dan selain itu, prinsip konflik terus menerus dalam Darwinisme

Sebaliknya, Allah menciptakan semua ras sederajat, dan sebagaimana telah kita pahami, menyatakan bahwa keunggulan berasal dari rasa takut dan ketaatan kepada-Nya. Sepanjang sejarah, para pemimpin kejam yang mengingkari ketentuan ini semua telah mendapatkan akhir yang serupa. Sebagaimana dinyatakan di dalam Quran Surat ke-40, ayat 56, mereka yang “tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya,” tidak pernah memperoleh keinginan mereka. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali,” Di dalam Surat 26, ayat 227, dan menyatakan bahwa orang-orang ini akan menemui akhir yang menghinakan di dunia ini. Dan, akhir yang menanti mereka di alam selanjutnya akan jauh lebih mengerikan:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka, kecuali jalan ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. An-Nisaa, 4:168-169)



KEBENCIAN FASISME TERHADAP AGAMA



Salah satu sikap umum yang dimiliki semua rezim fasis adalah mengenai agama. Pada pandangan pertama, tampaklah bahwa semua rezim fasis mendukung agama rakyatnya. Tetapi, fasis tidak melakukan ini dengan tulus. Satu-satunya tujuan mereka adalah untuk memperdaya rakyat mereka dan organisasi-organisasi keagamaan. Tak ada bedanya bagi fasis apakah agama yang dimaksud adalah Islam, Kristen, Yahudi, Budha, atau lainnya. Cukuplah bahwa agama tersebut dipandang mampu mengikat masyarakat itu dan memotivasi orang-orang bekerja untuk kepentingan fasisme. Jika kita kaji kebijakan dan praktik dari para diktator fasis seperti Hitler, Mussolini, dan Franco, dan bahkan dari fasis kontemporer seperti Saddam Husein, wajah sebenarnya dari kebencian mereka terhadap agama dapat terlihat jelas.

Pertama-tama, mustahil bagi kaum fasis untuk secara tulus membela agama, karena karakter dan prinsip-prinsip mereka sama sekali bertolak belakang dari landasan etis yang ditanamkan agama kepada manusia. Sementara yang dipilihkan Tuhan untuk umat manusia adalah agama perdamaian dan ketenteraman, fasisme terbentuk dari perang dan agitasi. Tuhan memerintahkan perkataan yang baik, kerelaan memberi maaf, dan cinta kasih, sementara kaum fasis menginginkan kebencian dan peperangan tanpa henti. Karenanya, kaum fasis tidak benar-benar tertarik melihat agama berkembang, ataupun berkeinginan agar etika yang menyertai agama tersebar luas, karena, jika ini terjadi, mereka tidak akan dapat memerintah masyarakat sesuai dengan cita-cita fasis mereka. Karenanya, mereka berupaya untuk memberi kesan bahwa menjalankan agama, walaupun mereka juga berupaya untuk mencegah penyebarannya melalui beraneka cara dan praktik.

Sejarah abad ke-20 dipenuhi contoh-contoh seperti itu.

Kebencian Nazi terhadap Agama



Kita telah mengkaji akar dari ideologi Nazi dan sikapnya terhadap agama. Sebagaimana ditunjukkan dalam contoh-contoh yang telah kita cermati, ideologi Nazi bertentangan dan berlawanan dengan semua agama ketuhanan. Landasan ideologi ini adalah filsafat anti agama dari Nietzsche, dan teori evolusi Darwin yang ateis dan menyangkal fakta penciptaan. Cara pandang etika Nazi merupakan tiruan dari budaya pagan Yunani kuno dan suku-suku Jerman pra-Kristen yang biadab: Nazisme adalah sebuah ideologi pagan dan keberhalaan.

Fakta ini telah diungkapkan oleh banyak komentator tentang hal ini. Dalam sebuah artikel berjudul “Darwinisme dan Holocaust Ras Nazi”, peneliti Amerika Jerry Bergman menguraikan pandangan Nazi tentang agama sebagai berikut,

Penghapusan doktrin Judeo-Kristiani tentang asal usul manusia dari garis besar teologi (liberal) Jerman dan sekolah-sekolahnya, dan menggantikannya dengan Darwinisme, secara terbuka memperbesar penerimaan akan Darwinisme Sosial yang memuncak dalam tragedi holocaust. 102

Daniel Gasman, pengarang Asal Usul Ilmiah Sosialisme Nasional pun sependapat:

(Hitler) menekankan dan menunjuk gagasan evolusi biologis sebagai senjata paling kuat untuk melawan agama tradisional dan berulang kali mencela agama Kristen karena menentang pengajaran evolusi. Bagi Hitler evolusi merupakan penanda sains dan budaya modern, dan ia membela kebenarannya sesengit Haeckel.

103

Hitler pernah mengungkapkan kebenciannya akan agama ketika ia dengan blak-blakan menyatakan agama sebagai:

…kebohongan terorganisir yang harus dihancurkan. Negara harus tetap menjadi penguasa absolut. Ketika aku masih muda, kupikir hal itu perlu dilakukan (menghancurkan agama)… dengan dinamit. Sejak itu aku menyadari bahwa ada ruang untuk sedikit kepelikan.... Keadaan akhir haruslah…. di Kursi St. Peter, duduk seorang pejabat yang pikun; di hadapannya beberapa wanita tua yang seram…. Yang muda dan sehat berada di pihak kita… Orang-orang kita sebelumnya telah berhasil hidup baik-baik saja tanpa agama ini. Aku mempunyai enam divisi orang-orang SS yang sama sekali tidak peduli akan masalah agama. Hal itu tidak menghalangi mereka menemui kematian dengan kedamaian di dalam jiwa mereka.

Seperti telah kita lihat, satu-satunya yang dianggap penting oleh Hitler, pada tingkat spiritual, adalah pemahaman yang membawa orang untuk “menemui kematian dengan kedamaian di dalam jiwa”. Pemikiran ini ditemukan di dalam bentuk konsep pagan seperti “jiwa Jerman”, dan “kehormatan perang”. Sementara itu, ia memandang agama-agama ketuhanan sebagai kepercayaan yang harus “dihancurkan dengan dinamit”.

Hitler menyimpulkan pandangan-pandangannya tentang agama kepada stafnya pada pertemuan di rumahnya di Oberzalsberg:

Kamu tahu, kita kurang beruntung karena memiliki agama yang keliru. Mengapa kita tidak memiliki agama seperti dipunyai bangsa Jepang, yang memandang pengorbanan bagi tanah air sebagai kebajikan tertinggi?

105

Inilah pendapat sejati Hitler tentang agama. Jika agama memerintahkan peperangan, sebagaimana agama bangsa Jepang, maka ia dapat diterima agar dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuannya sendiri. Akan tetapi agama Kristen mengajarkan perdamaian, bukan peperangan, dan pengorbanan pribadi, bukannya egoisme dan persaingan. Karena itu, Partai Nazi berperang terus-menerus dengan Gereja Katolik.

Namun Nazi juga mencoba untuk mengembangkan sebuah “agama Kristen yang sesuai dengan Nazisme”.

Agama Kristen yang Rasis” Milik Nazi



Walaupun sangat menentang agama, pada praktiknya, Nazi bertindak diplomatis terhadapnya. Tujuan mereka yang sebenarnya adalah memanfaatkan berbagai organisasi keagamaan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Hitler adalah musuh khusus dari Gereja Katolik, yang memandang semua penganut Kristen sebagai suatu komunitas supranasional. Sebagai gantinya, ia ingin mendirikan sebuah gereja untuk Jerman saja, dan secara bertahap, mengembangkan agama sebagai alat bagi fasisme Jerman. Dalam sebuah laporan berjudul “Program Partai Nazi dan Pandangan Dunia”, ideolog Nazi Gottfried Feder menulis:

Sudah tentu, suatu hari rakyat Jerman juga akan menemukan sebuah bentuk bagi pemahaman dan pengalamannya tentang Tuhan, sebuah bentuk yang dibangun oleh darah Nordiknya. Sudah tentu, setelah itu barulah trinitas darah, keimanan, dan negara menjadi sempurna.106

Menurut cara pandang ini, agama perlu menjalin keselarasan dengan cita-cita “darah dan negara”, atau dengan kata lain ideologi Nazi yang rasis. Dalam Mein Kampf, Hitler menyimpulkan bagaimana agama dimanipulasi, “Siapa pun yang ingin memenangkan massa yang luas harus mengetahui kunci yang membuka pintu ke dalam hati mereka.”107

Untuk menarik beragam komunitas, Hitler menggunakan istilah-istilah agama sebagai “kunci” ini, dan berupaya menggambarkan rasisme sebagai suatu cita-cita suci. Walaupun ia seorang Darwinis, yakni seorang yang menolak penciptaan oleh zat yang mahakuasa, ketika merumuskan propaganda rasisnya, Hitler merujuk kepada penciptaan, walaupun dengan menyimpangkannya, untuk digunakan sebagai pembenaran bagi rasisme. Sebagai contoh, di dalam Mein Kampf ia berkata:

Maka secara ringkas, hasil dari semua pencampuran rasial selalu sebagai berikut: (a) Penurunan tingkat ras yang lebih tinggi; (b) Kemunduran fisik dan intelektual dan oleh karenanya awal dari penyakit yang berjalan lambat namun pasti. Jadi, menyebabkan terjadinya perkembangan seperti itu tidak lain dari dosa melawan kehendak pencipta yang abadi.108

Orang-orang yang menurunkan derajat diri mereka atau membiarkan hal itu terjadi pada diri mereka, berdosa melawan kehendak Tuhan, dan ketika puing-puing mereka dikangkangi oleh musuh yang lebih kuat, bukan ketidakadilan yang menimpa mereka, melainkan hanya pemulihan keadilan.

Penyimpangan cita-cita agama oleh Nazi seperti ini, dan pemanfaatannya untuk melayani ideologinya sendiri yang rasis, efektif hingga tingkatan tertentu, dengan peranan penting para pengurus sejumlah gereja Jerman yang oportunis dalam strategi tersebut. Orang-orang agama yang munafik ini, bekerja sama dengan Hitler, membantu menyebarkan propaganda Nazi dengan beberapa cara. Pada tahun 1933, ketika Hitler baru saja berkuasa, presiden Persatuan Jerman Katolik, Wakil Kanselir Franz von Papen, dalam pidatonya pada tanggal 2 November 1933, berkata, “Tuhan yang pemurah telah memberkahi Jerman dengan memberinya seorang pemimpin pada masa-masa sukar, yang akan memimpinnya melewati segala kesulitan dan kelemahan, melewati semua krisis dan saat-saat penuh bahaya, dengan insting seorang negarawan, menuju masa depan yang bahagia.”110 Beberapa orang lainnya juga telah memuji Hitler sebagai seorang yang terpilih khusus untuk menyelamatkan Jerman dari kemalangan historisnya dan memimpinnya ke masa depan yang cemerlang.

Sementara kaum Nazi menggaet sejumlah gereja untuk bekerja sama, mereka juga mencoba mengintimidasi gereja-gereja lain dengan tekanan dan rasa takut. Pada tahun 1932, seorang pastor Protestan Dietrich Bonhoffer berkhotbah di Berlin tentang “kebenaran”. Dia memuji pentingnya cinta sebagai lawan dari sistem rasis yang berdasarkan kepada kebencian. Dia dihukum mati oleh Nazi karena perilaku subversif ini.

Antara tahun 1933 dan 1939, sejumlah besar pendeta Katolik ditangkap. Erich Klausener, pemimpin Aksi Katolik Jerman, terbunuh saat pembersihan di tahun 1934. Media-media Katolik dilarang. Kaum Nazi juga menyerang sejumlah gereja Protestan.

Sebaliknya, kalangan kependetaan yang bersekongkol dengan ideologi Nazi diberi penghargaan. Salah seorang di antaranya adalah Dr. Hans Kerrl, Menteri Urusan Gereja bawahan Hitler. Dalam pidato yang disampaikan di depan para pemimpin gereja pada 13 Februari 1937, Dr. Kerrl secara terbuka menyatakan agama Kristen sebagai sebuah alat ideologi Nazi, “Partai ini berakar pada dasar-dasar ajaran Kristen Positif, dan Kristen Positif adalah Sosialisme Nasional… Sosialisme Nasional adalah pelaksanaan kehendak Tuhan.”111

Pada akhir tahun 1937 dan awal tahun 1938, kalangan pastor Protestan, yang menyerah pada terorisme Nazi, bersumpah setia pada Hitler, dan dengan demikian menyegel kekalahan kekuasaan agamawi. Dengan itu, Hitler melaksanakan dominasinya atas semua sendi kehidupan. Bahkan, gereja pun berada dalam genggamannya. Namun tujuan Hitler sebenarnya adalah untuk menyingkirkan semua agama ketuhanan, dan membawa Jerman seutuhnya kepada paganisme. Dalam sebuah dekrit rahasia yang dibuat pada Juni 1941, tujuan Nazi untuk menghancurkan agama dijelaskan sebagai berikut:

Semakin banyak orang yang harus dipisahkan dari gereja dan kaki tangannya, para pastor… Jangan pernah lagi ada kepemimpinan masyarakat yang diserahkan pada gereja. Pengaruh ini harus dipatahkan sepenuhnya hingga tuntas. Yang memiliki hak untuk memimpin rakyat hanyalah pemerintahan Reich, dan melalui arahannya Partai, komponen-komponen dan unit-unitnya. 112
2010-07-19 18:44 Читать похожую статью
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • Контрольная работа
  • © Помощь студентам
    Образовательные документы для студентов.